Pengertian Haid Dan Ketentuan Darah Haid – Haid atau menstruasi merupakan kodrat wanita yang tidak bisa dihindari dan sangat erat kaitannya dengan aktivitas ibadahnya sehari-hari. Pada zaman jahiliyah haid dianggap menjijikkan yang harus dipikul oleh para kaum wanita. Kaum yahudi tidak memperlakukan secara manusiawi terhadap istri mereka yang sedang haid, mereka mengusirnya dari rumah, tidak mau tidur bersama dalam 1 ranjang bahkan makan bersama pun mereka tidak mau.

Sementara orang nasrani mempunyai kebiasaan menggauli istrinya dikala haid. Hal ini didorong para sahabat untuk menanyakan hukum-hukum haid. Dari sinilah kemudian para ulama’ merumuskan hukum-hukum yang terkait dengan permasalahan haid dengan didukung oleh istiqro’ (riset) Imam Syafi’I terhadap puluhan bahkan ratusan wanita dari berbagai daerah dan taraf ekonomi yang berbeda-beda.

Pengertian Haid Dan Ketentuan Darah Haid

Pengertian haid dan ketentuan darah haid

Haid biasa disebut menstruasi secara harfiyah (Lughot) mempunyai arti mengalir. Sedangkan menurut arti syar’I adalah darah yang keluar melalui alat kelamin wanita yang sudah mencapai usia minimal 9 tahun kurang 16 hari tidak genap (usia 8 tahun 11 bulan 14 hari lebih sedikit). Dan darah tersebut keluar secara alami (tabi’at perempuan), tidak disebabkan karena melahirkan atau sakit. Dengan demikian darah yang keluar sebelum usia tersebut bukan darah  haid melainkan darah istihadhah (darah penyakit).

Apabila seorang wanita mengeluarkan darah sebelum umur haid tersebut kemudian terus mengeluarkan darah sampai masuk umur haid, maka darah sebelum umur haid itu adalah darah istihadhah. Dan darah yang masuk umur haid itu darah haid, bila memenuhi syarat-syarat bagi darah haid yang diterangkan di atas. Yang digunakan untuk menghitung usia haid adalah kalender Hijriyah bukan kalender Masehi. Dalam mencatat tanggal kelahiran bayi sangat dianjurkan bagi orang tua menggunakan kalender Hijriyah disamping mencatat dengan menggunakan kalender Masehi.

Jadi, kesimpulannya batas awal umur dimungkinkannya haid adalah 9 tahun kurang 16 hari menurut tahun Qamariyyah atau Hijriyyah. Sehingga bagi anak wanita yang mengeluarkan darah sebelum umur tersebut maka bukan dinamakan darah haid, tetapi darah istihadhah atau darah penyakit. Sedangkan batas umur maksimal mengeluarkan darah haid adalah tidak ada. Selama darah yang dikeluarkan wanita tua itu tidak kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 15 hari 15 malam maka darah itu tetap disebut haid. Keterangan tersebut disarikan dari kitab Ianatun Nisa’ dan Risalah Haid, Nifas dan Istihadhah karya K.H. Muhammad Ardani bin Ahmad.

Pada umumnya wanita mengalami haid setiap bulan secara rutin sampai masa menopause, namun tidak menutup kemungkinan terjadi haid diusia senja sebab tidak ada masa maksimal wanita mengalami haid.

HUKUM MEMPELAJARI ILMU TANTANG HAID

  • Fardu ‘ain

Hukum ini berlaku bagi setiap wanita yang sudah baligh. Artinya, wajib bagi setiap kaum wanita yang sudah baligh untuk belajar dan mengerti dengan masalah yang berhubungan dengan haid, nifas dan istihadlah. Sebab, mempelajari hal-hal yang menjadi syarat sahnya suatu ibadah adalah fardu ‘ain.

  • Fardu Kifayah

Hukum ini berlaku bagi seorang laki-laki. Mengingat permasalahan haid tidak bersentuhan langsung dengan rutinitas kaum laki-laki, maka hukum mempelajarinya adalah Fardu Kifayah. Sebab, mempelajari ilmu yang tidak bersentuhan langsung dengan amaliyah ibadah yang dilakukan hukumnya Fardu Kifayah. Hal ini untuk menegakkan ajaran agama Islam dan keperluan ifta’ (fatwa) Ta’limul Muta’allim hal 4.

Kita sebagai kaum laki-laki setidaknya paham tentang haid walaupun itu bertentangan dengan kodrat kita sebagai laki-laki. Dengan pembahasan diatas penulis berharap semoga bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita. Terima kasih telah berkunjung diwebsite catatansantri.com terus dukung penulis agar selalu semangat membuat artikel-artikel yang bermanfaat.

Leave a Reply